Memaknai sebuah Tangisan


semoga bermanfaat :)

Maha Besar Allah dengan segala penciptaannya. Manusia dicipta komplit dengan kemampuan
respon, sebagai perwujudan atas tanggapan dari apa yang diterima indera dikolaborasikan
dengan hati dan akal.

Tahukah anda? Menangis itu merupakan karunia dari Allah, jika anda ingin menangis maka
menangislah dan jika anda ingin tertawa maka tertawalah karena Allah yang menjadikan
manusia itu bisa menagis dan tertawa. Ini dijelaskan di Quran Surat An Najm ayat 43-45:
“dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah
yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasangpasangan
pria dan wanita.” (Q.S An Najm[53]: 43-45)
Allah memberikan karunia menangis dan tertawa, jika seseorang mengajak anda tertawa maka
andapun dapat tertawa tanpa delay atau jeda. Spontan akan ikut tertawa tanpa jeda.
Subhanallah..
Baik, perhatikan ayat diatas Allah berfirman tentang menangis dan tertawa diayat berikutnya
Allah berfirman tentang kehidupan dan kematian. Bisa jadi ketika anda lahir semua orang
tertawa bahagia dan ketika anda meninggal, orang-orang disekitar kita akan menangis.
Seseorang yang telah mengalami betapa beratnya hidup di dunia, seolah bisa tersenyum ketika
meninggal karena terlepas dari segala kepenatan dan ujian Allah SWT. Sebaliknya seseorang
yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, akan merasa kaget dan menangis meninggalkan
gelimang nikmat di dunia dan menyesal melihat bekal di alam kubur lupa disiapkan.
Jadi kawan-kawan sekalian hidup kita itu hanya ada yaitu diwarnai dengan
kebahagiaan dan kesedihan, hanya hidup itu tidak seperti yang kita inginkan akan tetapi seperti
yang kita jalani.

Selain bahagia dan kesedihan, Allah juga menciptakan manusia yang berpasang-pasangan dan
berjodoh. Nah, bisa jadi sebuah pernikahan itu mendatangkan kebahagiaan atau kesedihan.
Untuk anda yang belum menikah, jangan berprasangka buruk kepada Allah bisa jadi Allah
sangat sayang kepada anda, karena bisa jadi jika menikah saat ini dapat memberikan keburukan atau kesulitan yang lebih untuk hidup anda.

Padahal perahu rumah tangga jika telah dinaiki dan berlayar, pasti akan mengalami ombak baik
yang kecil maupun dahsyat. Dan sebagai penumpang kapal wajib selalu focus dan mengarah
kepada tujuan akhir. Ayat diatas menjelaskan bahwa pasangan suami istri itu, akan diwarnai
dengan kebahagiaan dan tetesan air mata. Ada yang lebih banyak bahagianya dan lebih sedikt
sedihnya dan ada juga sebaliknya. Semua ibarat berposisi ketika roda yang berputar

Sobat dalam kehidupan manusia, akan terjadi berbagai macam tangisan, yakni :
1. Tangisan kebahagiaan
2. Tangisan kesedihan
3. Tangisan kerinduan
4. Tangisan penyesalan
5. Tangisan kemarahan
6. Tangisan keberkahan
Diantara tangisan-tangisan tersebut, ada beberapa tangisan yang istimewa dimana mampu
mendatangkan cinta Allah SWT, apakah itu :
1. Menangis karena khusyu
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah
khusyu'.” (Q.S Al Israa’[17]: 109)

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari
keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari
keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan
telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka,
maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.S Maryam[19]: 58)

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang
meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali
kepada-Nya.” (Q.S Al Baqarah[2]: 45-46)

2. Menangis karena merenungkan firman-firman Allah

3. Menangis saat beribadah

Dari Mu’awiyah bin Haidah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang
yang mata mereka tidak akan melihat neraka, yaitu mata yang berjaga di jalan Allah,
mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga dari melihat halhal
yang diharamkan oleh Allah”. [HR. Thabrani]

by Dr. Aam Amiruddin

0 komentar:

Posting Komentar